Hai, sobat pencinta sate Bali! Di Sendok Sejagat, kami sering rindu sate yang punya rasa berbeda dari biasa, dan Sate Susu Sapi ini langsung bikin kami ketagihan setelah coba panggang berkali-kali di halaman belakang. Daging sapi yang empuk juicy, dibalut bumbu santan kental gurih manis, dibakar perlahan sampai harum – setiap tusuk terasa lembut di dalam, renyah di luar, dengan rasa susu sapi yang manis gurih dan rempah Bali yang meresap sempurna. Kami biasa bikin ini untuk makan malam keluarga atau acara kecil di rumah, tambah plecing kangkung pedas segar dan sambal matah yang bikin keringetan tapi nagih. Hidangan ini terasa seperti cerita hangat dari dapur Bali: bahan lokal, proses bakar sabar, tapi hasilnya bikin semua orang diam-diam minta tambah. Yuk, kita marinasi daging bareng dan nyalakan arang – aroma santan bakar langsung bikin dapur terasa hidup!
Kami suka bagaimana santan memberi rasa manis gurih yang khas Bali, tanpa terlalu dominan. Selain itu, Sate Susu Sapi cocok buat yang suka sate dengan kuah santan yang kental. Setelah berkali-kali panggang dan cicip, kami yakin kamu akan suka keseimbangan manis-gurih yang bikin ingin ulang lagi.
Asal-Usul Sate Susu Sapi
Sate Susu Sapi berasal dari Bali, khususnya daerah Gianyar dan sekitar Ubud, bagian dari masakan tradisional Hindu Bali yang kaya santan dan rempah. Hidangan ini lahir dari tradisi masak masyarakat Bali yang manfaatkan susu sapi segar (atau santan dari kelapa) sebagai bahan utama untuk sate yang lebih lembut dan gurih.
Kami pelajari bahwa sate ini berkembang dari sate lilit dan sate ayam biasa, tapi pakai daging sapi dengan bumbu santan untuk rasa lebih kaya dan empuk. Karena itu, Sate Susu Sapi sering muncul di acara adat, otonan, atau warung makan tradisional Bali, berbeda dari sate lilit yang pakai ikan atau babi. Pengaruh Hindu Bali membuat sate ini pakai rempah seperti lengkuas, serai, dan daun jeruk untuk aroma khas. Di Bali modern, sate ini tetap populer di warung makan atau restoran Bali, sering disajikan dengan lawar atau sambal matah.
Kami di Sendok Sejagat coba versi Gianyar ini, dan rasanya seperti duduk di warung pinggir sawah Ubud – gurih manis santan, empuk, dan penuh cerita masak bersama. Jika kamu suka sate santan, coba juga resep sate lilit ikan yang kami punya – mirip teknik bakarnya tapi dengan isian ikan.

Bahan-Bahan untuk Sate Susu Sapi
Kami buat untuk 4-6 porsi (sekitar 25-30 tusuk sate).
Untuk sate:
- 800 gram daging sapi has dalam (atau sengkel, potong dadu kecil atau cincang kasar)
- 200 ml santan kental (dari 1 kelapa atau kemasan)
- 6 siung bawang putih
- 8 butir bawang merah
- 4 cm lengkuas, iris tipis
- 3 cm jahe
- 3 cm kunyit
- 5-8 buah cabai merah keriting (sesuaikan pedas)
- 5 lembar daun jeruk, buang tulang
- 2 batang serai, memarkan
- 1 sendok teh terasi bakar
- 2 sendok teh garam
- 1 sendok teh gula aren
- Tusuk sate bambu secukupnya
Pelengkap:
- Plecing kangkung
- Sambal matah
- Lontong atau nasi putih
Siapkan tusuk sate bambu dan panggangan arang atau grill pan.
Cara Memasak Sate Susu Sapi
Kami haluskan bumbu dulu, marinasi, kemudian bakar. Total waktu sekitar 1,5-2 jam termasuk marinasi.
- Haluskan bawang merah, bawang putih, lengkuas, jahe, kunyit, cabai merah, daun jeruk, serai, dan terasi sampai halus.
- Campur bumbu halus dengan daging sapi potong atau cincang. Tambah santan kental, garam, dan gula aren. Aduk rata, marinasi minimal 1 jam (lebih baik 2-3 jam di kulkas).
- Tusuk daging ke tusuk sate (3-4 potong per tusuk). Sisihkan sisa bumbu santan untuk olesan.
- Panaskan arang sampai bara merah. Bakar sate api sedang, balik sesekali agar matang merata (sekitar 15-20 menit).
- Oles sisa bumbu santan tipis-tipis saat bakar agar mengkilap dan gurih.
- Bakar sampai kecokelatan dan harum. Angkat dan sajikan panas.
- Sajikan dengan plecing kangkung, sambal matah, dan lontong.
Dengan begitu, sate-mu empuk gurih santan dan renyah luar. Kemudian, hidangkan selagi panas untuk aroma rempah maksimal.
Tips Sukses dan Variasi dari Dapur Sendok Sejagat
Tim kami bagikan trik ini dari panggang berkali-kali supaya sate empuk dan gurih.
- Gunakan daging sapi has dalam – sengkel lebih kenyal tapi perlu masak lebih lama, has dalam lebih cepat empuk.
- Marinasi lama – minimal 1 jam, lebih lama santan dan bumbu meresap sempurna.
- Bakar api sedang – api besar gosong luar mentah dalam, api kecil lama matang.
- Oles bumbu santan tipis-tipis – terlalu banyak bikin sate lengket dan mudah gosong.
- Untuk variasi, tambah sedikit gula aren lebih banyak – kami coba, tambah rasa manis karamel khas.
- Hindari bakar terlalu lama – sate bisa kering, cukup sampai kecokelatan.
- Simpan sisa di kulkas 2 hari; panaskan ulang di panggangan agar tetap empuk.
- Eksperimen rempah – tambah sedikit sereh untuk aroma lebih segar, versi rumah favorit kami.
Sebaliknya, kalau ingin lebih ringan, kurangi santan. Namun, versi klasik dengan santan kental paling autentik Bali. Jelajahi lebih banyak resep masakan Nusantara di koleksi kami untuk inspirasi bakar serupa.
Yuk, beli daging sapi segar dan santan kental, kemudian panggang Sate Susu Sapi ini akhir pekan! Kami di Sendok Sejagat percaya, sate seperti ini bikin masak jadi aktivitas yang menghangatkan hati. Setelah coba, ceritain dong tingkat gurihnya – mungkin olesan santanmu bikin lebih pas dari kami. Selamat membakar, dan nikmati setiap tusuk yang penuh cerita Bali!












